Sampul anak palopocommunity

Sampul Anak Palopo Community dibuat Stiker yang telah di gunakan dalam penggalan dana awal pada sebuah Bakti Sosial pada Akhir Tahun 2012

logo anak palopo

Yang telah di gunakan sebagai sampul dan Logo dalam pengukuhan AD/ART Anak Palopo yang di adakan pada tanggal 27 Januari 2013

stiker anak palopo

Gambar ini di buat untuk Stiker yang telah di gunakan dalam penggalan dana awal pada sebuah Bakti Sosial pada Akhir Tahun 2012

Peserta mubes anak palopo

Sebagian dari peserta dalam Mubes Anak Palopo yang di adakan di depan rumah ketua pada waktu Minggu 27 Januari 2013

Baksos Anak Palopo

Baksos Anak Palopo Community yang di adakan pada tanggal 29 Desember 2012 bertempat di Panti Asuhan Nur Ilahi dan beberapa tempat lainnya

Rabu, 05 Juni 2013

Menyebut kata Mannennungeng, bagi orang Palopo tentu tidak asing lagi. Mannennungeng adalah nama salah satu jalan di sekitar rumah sakit sawerigading, sebelum rumah sakit sawerigading dipindahkan ke rampoang. Sekarang, lingkungan mennennungeng masih ada. Kalau anak radio-radio, pasti nakenal itu radio Kelandka, yang alamatnya di jalan Mannennungeng. Tapi tahukah anda?? apasih mannennungeng itu. Dalam terminologi bahasa bugis, mannennungeng pada dasarnya identik dengan sesuatu yang memiliki sifat konsistensi, berkelanjutan, dan tidak mengenal lelah. Karena itu, istilah mannennungeng mengandung makna yang sarat dengan semangat pantang menyerah, tidak cepat bosan, dan istiqamah. Hanya saja sudah banyak istilah-istilah tersebut (dan banyak lagi teman-teman dari istilah serupa) tidak lagi dipahami dengan baik oleh generasi yang mucul di belakang. Kalau anda bekerja dengan tekun, kemudian pekerjaan tersebut berjalan dengan lancar, tanpa halangan, dan berkelanjutan, maka anda berhak disebut orang yang Mannennungeng Jama-jamanna (Berkelanjutan/lancar pekerjaannya), dan istilah tersebut mengindikasikan sebagai orang yang sukses dalam berkarir. Nasehat orang tua, Narekko melo’ko mannenungeng jama-jamammu aja’ mupubiasannggi muassungkelli’i lipa’mu, mattula’ bangi maele, makkadao uttu, nasaba’iyamanennaro tanra’tandranna tau makuttuE.(Kalau kamu mengharapkan pekerjaanmu berjalan lancar dan berkelanjutan, maka jangan membiasakan diri bermalas-malasan seperti Massungkelli’i Lipa’mu (Penulis tidak tahu terjemahnnya dalam bahasa Indonesia, tapi istilah tersebut diberikan kepada orang yang sering menggunakan sarung dengan cara membungkus badannya sambil memeluk lutut), jangan membiasakan bertopang dagu (karena itu kebiasaan orang malas). Jaji melo’kiga Mannennungeng jama-jamatta??? Aja lalo tamakuttu. Semangaaaaaaaaaaaaaaatttt

Post By :Ngenges Asri

Siang ini saya ingin bicara tentang romantisme Palopo. Saya tiba-tiba saja mendapat ide tentang tema ini. Romantiskah palopo? Di akhir bagian cerita ini saya akan mengungkapkan latar belakangnya. Terlalu dini untuk masuk ke episode itu.

Banyak tempat di belahan dunia ini yang diyakini orang sebagai tempat-tempat romantis. Sebut saja Paris, Viena, Barcelona, Venice dan Amsterdam. Sayangnya, keempat nama yang pertama belum satupun yg kukunjungi. Kecuali nama yg terakhir, amsterdam (amassangan terendam) pernah.hehehe… Kala itu,saya ingat Sungai Amassangan masih jorok. Saya bangga,kini kondisinya indah sekali. Saya sempat berpikirmengapa tidak dijadikan sarana wisata kota saja. Mirip amsterdam betulan,yang punya banyak sungai untuk wisata. Mungkin kita belum kreatif untuk melaksanakannya. Atau belum siap nerima bule-bule di sungai itu. Saya rasa bukan itu ya?
 
Di Indonesia, mungkin nama kota Bandung,Yogya dan Denpasar bisa saya sebut top 3 kota romantis. Makasar saya pikirbelum. Atmosfir romantisnya belum ‘ngena’ betul secara umum. Walaupun di sana ada Losari, Jalan Sombaopu, dan Rotterdam yang saya anggap romantis. Nilainya masih di bawah dari 3 kota di atas. Tentu masih menurut perasaan saya. Memang,romantis atau tidak pasti rentang nilainya harus pake hati. Banyak orang juga mengukur ke-romantis-an suatu kota dengan ukuran mudah tidaknya jalinan asmara ‘latto’ ditempat itu. Agak ekstrim memang. Tapi saya masih memegang teori pertama. Semuanya diukur dengan hati.
 
Romantiskah Palopo? Saya coba menelusuri sisi romantis Palopo . Saya mulai explorasi (agak mirip dora the explorer) ini dari Sampoddo. Tempat ini saya pikir cukuplah untuk menumbuhkan atmosfir lain dari kota ini. Atmosfir romantiskah? Saya rasa ya. Sampoddo menurutku perpaduan lansekap gunung dan laut. Yang tentunya menumbuhkan emosi,spirit dan expression of ‘nothing’. Begitu pula dengan Tanjung Ringgit. Lansekapnya cenderung sama. Secara umum palopo memang demikian, paduan laut dan gunung. Hanya bila di tanjung ringgir,subjeknya adalah laut. Romantiskah di tempat ini? Saya rasa juga ya.Apalagi waktu malam. Lampu-lampu Palopo memesona. Atmosfir romantisnya lebih dikentalkan dengan pasangan muda-mudi yang lagi pacaran. Maka menurutku, teori kedua di atas ada benarnya juga.
 
Tempat kongkow semisal Pujasari dan Lagotatampaknya belum masuk dalam nominasiku. Harus lebih banyak sentuhan di sana. Agak kampungan menurutku. Pujasari sebenarnya potensial untuk menjadi tempat yang lebih berkarakter. Di sana ada istana dan LangkanaE yang menurutku arsitekturnya romantis habis. Istananya Europe’s style banget. Mengingatkan bahwa memang paham romatis atau romantisme lahir di sana, medio abad 18 dan klimaksnya di 19. Kadang juga saya berpikir hidup di abad itu. Mungkin saya bisa kenalan dengan E Tenriawaru. Sejarahnya beliau pajung di Luwu kala itu. Seorang perempuan. Ya tentulah seperti wanita-wanita di keraton Jawa sana. Katanya cukup cantik namun tetap kuat. Buktinya, beliau jadi pajung. Gak semua Datu Luwu loh yang jadi pajung.
 
Palopo, kalau saya tidak salah, belum punya legenda romantis. Mungkin ada, tapi kurang terekspose. Seingatku, saya belum pernah dengar cerita seperti Maipa Diapati dan DatukMusseng di Palopo. Sayang sekali pikirku.Kalaupun ada, mungkin hanya petikanepisode I La Galigo. Tentang Sawerigading dan We Cudai atau asmara terlarang Sawerigading dengan saudara kembarnya. Tapi indikator ini bukan lantas menjustifikasi orang-orang Palopo tidak romantis loh.
 
Beberapa tempat di atas memang cukup menumbuhkan atmosfir romantis. Banyak orang mengatakan Labombo juga. Tapi tampaknya bagiku lebih ‘out of the box’ dari konsep romantisme. Di tempat itu lebih harum aroma illegal sex-nya. Bukan menghakimi, tapi sekadar mengingatkan. Infrastruktur penerangan belum optimal jek. Jadi ada peluang untuk itu. Saya pernah liat disana, bukan illegal sex-nya, tapi masih sebatas warming up mungkin. Saya yakin,warming up selalu diakhiri dengan colling down,dan saya yakin sebelum colling down pasti ada core-nya.he…
 
Di paris, orang mengatakan romantis karena sangat mudah menemui orang yang ciuman di pinggir jalan. Kalau berdasar teori ini, saya teringat janji saya di atas. Latar belakang tulisan ini. Kemarin saya dapati sepasang siswa SMP lagi ciuman di pinggir jalan. Frenchkiss jek! Mirip Tommy Kurniawan dan Ratna Galih. Lokasinya memang ngedukung. Jalan Pongtiku dekat Lebang. Sepi dan lansekapnyaindah. Makanya saya sempat berpikir, bocah ini kayak cerita di Paris saja, ciuman di pinggir jalan. Apakah Palopo memang seromantis Paris? Maaf, saya belum bisa jawab. Saya belum ke Paris…yang jelas tidak etis menjadikan Palopo seromantis Paris,kalau keadaannya seperti gitu. Ya, to?

Post By :Ngenges Asri

Palopo, merupakan kota yang memiliki keragaman budaya dan tradisi yang selalu menarik untuk diperhatikan. Tidak hanya itu, kota yang terletak di ujung utara Propinsi Sulawesi Selatan itu, berjarak 362 km dari Makassar, juga memiliki sejumlah lokasi wisata budaya dan alam yang potensial untuk dikembangkan. Kota Palopo juga tergolong kota yang bersih. buktinya, Kota Palopo sudah beberapa kali mengantongi penghargaan bergengsi di Bidang Kebersihan. diantaranya, Piala Adipura, dan masih banyak lagi. Kota yang berjuluk Kota IDAMAN (Indah, Damai, Aman) dikelilingi gunung-gunung yang sangat indah bila dipandang.

Berikut daftar objek wisata yang harus anda kunjungi jika datang ke Kota Palopo :

Masjid Jami' Tua Kota Palopo

Pembangunan masjid dimulai pada sekitar abad ke-16 tahun 1604 M oleh ulama yang berasal dari minangkabau, Sumatera “Datuk Sulaiman bergelar Datuk Pattimang”. Ukuran bangunan utama 11, 9 meter x 11,9 meter dan tinggi 3,64 meter, dinding masjid menggunakan batu setebal 0,94 meter yang direkatkan dengan putuh telur. Atap bersusun tiga dan dipuncaknya terdapat tempayan kramik sebagai mustaka yang mengandung falsafah LUWU, yaitu lampu, tongeng, benteng dan allele. Sedangkan mustaka adalah refresentasi dari sifat tuhan yang maha adil. Tiang utama sebagai penopang atap bermakna payung yang mengembang sebagai konsep tegaknya addatuang, dengan tinggi 8,5 meter dan diameter 90 cm dengan bahan kayu cengaduri. Konstruksi masjid sangat unik karena terdapat perpaduan unsur Beni Cina-Vietnam melalui arsitek POEMANTE. Luas lahan 1.680 m2. Pemugaran pertama tahu 1951 dengan mengganti lantai dengan tegel yang didatangkan dari Singapura. Kemudian pemugaran ketiga tahun 1981 yaitu memperbaiki pada bagian-bagian yang rusak, lalu pemugaran keempat dan kelima dengan melakukan penambahan luas bangunan.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan Masjid Jami Tua di Kota Palopo ini dianggap sebagai pemersatu antar anggota masyarakat berdasarkan kesamaan agama.

Rumah Adat Langkanae dan LokkoE

Selain Masjid Jami Tua, beberapa bangunan bersejarah yang layak dijadikan tempat wisata budaya bersama keluarga di Kota Palopo adalah rumah adat Langkanae dan LokkoE (kuburan datu – datu Luwu).

Di rumah adat Langkanae ini, terdapat beberapa bangunan gedung bersejarah yang memiliki histori bagi masyarakat Palopo dan kawasan Luwu. Salah satunya adalah Istana Datu Luwu, yang saat ini difungsikan sebagai Museum Kerajaan Luwu dan diberi nama Museum La Galigo.

Lokasi rumah adat ini kerap digunakan sebagai tempat kegiatan sanggar budaya dan kegiatan adat lainnya.

Sementara kawasan wisata LokkoE yang terletak di Luminda, Sabbamparu, merupakan tempat pemakaman raja-raja (datu) Luwu. Tempat pemakaman ini menyerupai piramida yang ada di Mesir. Berbentuk kerucut dan di dalamnya disemayamkan para mendiang raja-raja Luwu yang dianggap dewan adat Luwu berhak dimakamkan di tempat pemakaman ini.

Bukit Sampoddo'

Bukit Sampoddo' terletak di wilayah Selatan Kota Palopo, merupakan lokasi wisata di mana Anda dapat menikmati eksotis kota Palopo yang terbingkai dalam tiga dimensi, yakni nuansa pegunungan, daratan dan daerah pesisir dengan sekali pandang.
Sambil menikmati keindahan kota, di tempat ini Anda juga bisa menikmati kelezatan jagung bakar dan jagung rebus yang diperjualbelikan oleh pedagang setempat.

Pantai Labombo

Berada di pusat kota. Sebuah suguhan panorama wisata bahari yang menawan. Sepanjang kawasan pantai dipenuhi barisan pohon kelapa dan beberapa gazebo terbangun indah. Selepas mata memandang, tampak birunya laut dan tempat pelelangan ikan (TPI) dan Pelabuhan Tanjung Ringgit terlihat jelas. Sarana rekereasi wisata bahari ini memiliki luas sekitar 2 Ha dan menjadi kawasan wisata andalan Palopo.

Desa Wisata Latuppa

Desa Latuppa terletak di Kecamatan Wara. Di desa ini, terdapat aliran sungai yang tidak pernah kering. Ditambah lagi, kekayaan alam di sekitarnya dengan berbagai macam buah-buahan. Biasanya, pada musim buah-buahan, masyarakat Palopo dan wisatawan dari luar mengunjungi daerah ini dan menikmati wisata alam sambil mandi di sungai sembari menikmati buah durian, rambutan dan langsat. Di kawasan ini, juga terdapat air terjun Latuppa yang menjadi lokasi wisata favorit bagi para remaja dan masyarakat umum.

Pulau Libukang

Pulau ini bisa ditempuh kurang lebih 20 Menit dari pusat kota.
pulau ini menyimpan sejuta keindahan yang eksotis. kalau tidak percaya, datang aja.

Permandian Alam Bambalu

terletak di Kelurahan Battang Barat (daerah pegunungan), permandian ini sangat diminati oleh para wisatawan Nasional maupun Internasional karena keindahannya.

Post by :Woe Chan

Kamis, 04 April 2013

 Rusuh di Palopo, Kerugian Capai Rp 100 Miliar



 Wakil Wali Kota Palopo Andi Rahmad Bandaso, menaksir kerugian yang diakibatkan pembakaran di Kota Palopo, Minggu kemarin, mencapai Rp 100 miliar.

Namun, hingga hari ini pemerintahan setempat masih melakukan penghitungan kerugian untuk mengetahui angka pasti. Seperti yang diberitakan, pembakaran terjadi  pada kantor Sekertaris Daerah dan Dinas Perhubungan yang lokasinya berada di Kantor Wali Kota, serta kantor kecamatan Wara Timur.

"Saat ini kami sedang menghitung kerugian, yang adalah mempercepat pelayanan masyarakat," ungkap Rahmat, Selasa (2/4/2013).

Menurut Rahmat, jika angka kerugian pasti telah didapatkan, maka akan disusul dengan pengajuan anggaran perbaikan ke Provinsi Sulawesi Selatan dan juga Pemerintah Pusat.

Sejauh ini, walaupun beberapa gedung perkantoran kondisinya tidak bisa lagi digunakan karena terbakar, namun Rahmat tetap menginstruksikan pegawai untuk tetap masuk kerja. "Saat ini pelayanan kami pindahkan ke kantor balai kota, agar pelayanan tetap jalan seperti biasanya," tambah Rahmat. 

 Ini Penyebab Kerusuhan di Palopo



Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulawesi Selatan siap mengusut penyebab kerusuhan pilkada di Kota Palopo. DPW PKS menilai Pilkada Palopo didalangi tindak kecurangan oknum tertentu.
Beberapa jam lalu, kantor Golkar Palopo dibakar oknum tertentu. Selain itu, ruangan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kantor Wali Kota Palopo, dan dua kendaraan dinas yang terparkir di halaman kantor tersebut juga dibakar massa.
Belum berhenti di kantor tersebut, kantor Camat Wara Timur Palopo dan Kantor Pos Palopo juga dibakar massa yang diduga pendukung kandidat tertentu. Aparat kepolisian dikabarkan ngoyoh mengamankan aksi massa tersebut.
"DPW PKS sangat menyesalkan terjadinya kerusuhan di Kota Palopo dan meminta kepada semua pihak agar dapat menahan diri dan DPW PKS akan melakukan investigasi terhadap penyebab kerusuhan ini," kata Ketua DPW PKS Sulsel Andi Akmal Pasluddin saat mengonfirmasi Tribun via telepon selulernya, Minggu (31/3/2013).

Akibat tidak jujur
Menurut Wakil Ketua DPRD Sulsel ini, kerusuhan diduga akibat pilkada yang tidak berjalan jujur dan merugikan salah satu pihak. Tindak anarki massa menyusul keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Palopo yang menetapkan pasangan Judas-Akhmad (JA) sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palopo terpilih.
Ketua KPU Palopo Maksum Runi mengatakan, dari hasil rekapitulasi, pasangan JA memperoleh 37.469 suara. Sementara pasangan Hati 36.731 suara. PKS mengusung Hati.
Dari hasil rekapitulasi tersebut, pasangan JA mengungguli Hati dengan selisih suara sebanyak 738 suara. Partisipasi pemilih 69,11 persen. (Sud/Ilo)
Berikut hasil rekapitulasi per kecamatan Pilkada Palopo.
Telluwanua   :  JA 2.855  Hati 3.519
Bara             : JA 5.955 Hati 5.540
Waru            : JA 4.620 Hati 4.771
Wabar          : JA 2.485 Hati 2.529
Mungkajang :  JA 2.133 Hati 1.710
Wara            : JA 6.612 Hati 7.345
Sendana      : JA 1.717 Hati 1.349
Warsel         : JA 2.904 Hati 2.292
Wara timur   : JA 8.188 Hati 7.676
 
Sumber :

bis terbakar



Pasca insiden kericuhan, pasca pleno rekapitulasi suara Pemilukada Palopo putaran kedua, Kepolisian Resor Palopo menetapkan status keamanan di daerah ini siaga 1.

Kapolres Palopo AKBP Endang Rasyidin mengatakan pengamanan dan status keamanan ditingkatkan menyusul terjadinya insiden pembakaran sejumlah kantor pemerintah dan kantor media oleh massa pendukung salah satu calon kandidat kepala daerah Palopo yang dinyatakan kalah.

Endang mengatakan, dalam rangka keamanan wilayah Kota Palopo, pihaknya telah mendapatkan bantuan personel pengamanan dari TNI, Satuan Brimob Polda Sulselbar, dan personel kepolisian dari Polres tetangga lainnya.

Selain menetapkan status siaga 1, polisi juga mewarning untuk melakukan tindakan tegas berupa tembak ditempat bagi pelaku kerusuhan.
Untuk diketahui, pasca Pleno KPU Kota Palopo tentang hasil rekapitulasi suara tingkat Kota Palopo, siang tadi, massa pendukung salah satu calon marah dan menilai pihak penyelenggara Pemilukada Palopo sengaja melakukan pembiaran atas dugaan tindakan penggelembungan suara yang dinilai menguntungkan salah satu calon.

Akibat kemarahan tersebut, massa membakar dan merusak sejumlah bangunan, seperti Sekretariat Kota Palopo, Kantor Dinas Perhubungan Kota Palopo, Sekretariat DPD II Partai Golkar Palopo, Kantor Camat Wara Timur, Kantor Panwaslu Palopo, Kantor Redaksi Harian Palopo Pos, Perwakilan Harian Fajar, dan kantor Biro SINDO.  Selain itu massa juga membakar sejumlah kendaraan berpelat merah yang terparkir di sekitar kantor pemerintahan tersebut.




Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar mengecam keras aksi penyerangan dan pembakaran kantor harian Palopo Pos dan kantor Harian Fajar biro Palopo, terkait kisruh Pilwalkot Palopo, yang terjadi siang tadi, minggu siang, pasca penetapan pemenang Pilwalkot Palopo putaran kedua yang memenangkan Judas Amir dan Ahmad Syarifuddin (JA).

Hal ini disampaikan Ketua AJI Makassar, Mardiana Rusli dalam rilisnya pada detikcom. Menurut Mardiana, sebelum peristiwa terjadi pihak Palopo Pos mendapatkan teror via sms dan telepon yang menyebutkan kantor berita itu akan dibakar.

"Mereka melaporkan aksi teror tersebut ke aparat Kepolisian dan TNI. Namun, semua aparat terkonsentrasi di kantor Walikota. Pihak redaksi Palopo Pos membantah jika media mereka dianggap tidak netral dan memihak salah satu pasangan kandidat, isu tersebut sengaja dihembuskan provokator," tutur Mardiana yang koresponden ANTV di Makassar ini.

Atas peristiwa tersebut, AJI Makassar meminta polisi menangkap dan menyidik para pelaku sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Karena hal ini, lanjut Mardiana, merupakan tindakan kriminalisasi terhadap dunia pers dan melecehkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang melindungi hak wartawan untuk menjalankan pekerjaannya.

“Menganiaya, mengancam,dan merampas alat kerja wartawan adalah tindak pidana, dan polisi harus menangkap serta menyidik para pelaku, sebaliknya Jurnalis harus memberitakan yang sebenarnya dan porsi yang imbang. Sehingga publik melihat media tidak berpihak, dalam keadaan genting dan gawat, jurnalis tidak boleh memanaskan keadaan sehingga dapat membuat situasi jadi destruktif," tandas Mardiana.

Sumber : detiknews.com

Kronologi Pembakaran Kantor DPD Golkar



Pembakaran kantor DPD Golkar di Palopo dipicu hasil rapat pleno KPU yang menetapkan Judas Amir-Ahmad Syaifuddin sebagai pemenang Pemilihan Wali Kota Palopo.

Sejak Minggu (31/3/2013) subuh, massa dua pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palopo yakni Haidir Basir-Thamrin Jufri dan Judas Amir-Ahmad Syaifuddin sudah memadati jalan-jalan di sekitar lokasi kantor KPUD Palopo. Mereka menantikan rapat pleno penetapan pemenang Pilwakot Palopo.

Setelah KPUD mengumumkan pemenang Pilwakot Palopo adalah Judas Amir-Ahmad Syaifuddin, massa pendukung salah satu calon mengamuk. Sekitar pukul 13.30 siang, mereka menyerbu kantor DPD Partai Golkar yang tidak jauh dari Kantor KPUD Palopo di Jenderal Sudirman.

Awalnya massa hanya melempar batu ke arah kantor yang mengakibatkan kaca pecah. Namun, aksi anarkis mereka meningkat dengan membakar kantor.

Berselang beberapa menit kemudian, kantor Wali Kota Palopo yang berlokasi sekitar dua ratus meter dari Kantor DPD Golkar, juga dibakar.

Belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait aksi pembakaran kantor Golkar dan kantor wali kota tersebut. Hingga pukul 14.30 Wita, massa masih berkonsentrasi di beberapa titik kota Palopo. Suasana kota ini terlihat mencekam.

Sumber : KOMPAS.com

Sekretariat Kota Palopo Juga Ikut Dibakar Massa


Aksi anarkistis warga yang menolak hasil pleno rekapitulasi suara di kantor KPU Palopo terus terjadi. Bahkan, setelah membakar Kantor DPD II Golkar Palopo, warga terlihat juga sudah membakar Sekretariat Kota Palopo. 


Pantauan luwuraya.com, api terlihat membakar di bagian utara dan selatan Sekretariat Kota Palopo. Selain membakar gedung, massa juga membakar satu unit bus perintis yang terparkir tepat di belakang Sekretariat Kota Palopo, dan satu unit mobil Satpol PP Palopo. 

Massa juga melempari armada pemadam kebakaran yang mencoba datang untuk memadamkan api. Hingga berita ini diturunkan, bentrokan massa masih terus terlihat. Bahkan tidak hanya berhadapan dengan polisi, sesama pendukung pasangan calon juga tampak sudah berhadap-hadapan. (b)




Kantor Golkar Palopo Dibakar Massa

Ketidak puasan atas hasil rekapitulasi suara yang digelar KPU Kota Palopo, siang ini, membuat protes warga pendukung salah satu calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palopo, berujung bentrok. Bahkan, warga terlihat bertindak anarkistis. 

Reporter Luwuraya.com di lapangan melaporkan saat ini satu unit bangunan, yakni Kantor DPD II Golkar Palopo yang bersebelahan dengan Kantor KPU Palopo, sudah dibakar massa. Massa yang kecewa melakukan tindakan yang anarkistis dengan membakar gedung tersebut. 

Tampak asap hitam mengepul ke udara akibat pembakaran gedung tersebut. Dua unit armada pemadam kebakaran Kota Palopo sudah diturunkan untuk memadamkan api tersebut. 

Sementara itu, konsentrasi massa masih terlihat di depan Kantor Wali Kota Palopo, berhadapan langsung dengan petugas kepolisian yang tampak terkonsentrasi di depan kantor BNI Palopo. (b)

Ratusan Massa Mulai Kepung Kantor KPU Palopo







Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palopo yang terletak di Jalan Andi Djemma mulai dikepung ratusan massa. Pantauan luwuraya.com massa yang diduga pendukung salah satu calon Wali Kota Palopo ini akan melakukan aksi demonstrasi di Kantor KPU Palopo saat rekapitulasi suara dilakukan, Minggu (31/3/13).


Sementara itu, akses jalan menuju Kantor KPU Palopo saat ini sudah ditutup untuk umum, Polisi menutup jalan masuk KPU menggunakan kawat duri.

Massa yang tadinya berkonsentrasi di depan Bank BNI bergerak menuju lapangan Pancasila.
Kapolres Palopo, AKBP Endang Rasyidin yang dikonfirmasi belum lama ini mengatakan pihaknya dalam melakukan pengamanan pleno KPU akan mengedepankan persuasif dan sebisa mungkin menghindari tindakan represif.(b)

Sumber : luwuraya.com


Kantor Camat Wara Timur Dilempari Molotov



Suasana panas saat proses rekapitulasi suara di kantor Kecamatan Wara Timur, membuat proses rekapitulasi dihentikan dan dipindahkan ke Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palopo.

Pasalnya, warga yang melakukan protes di luar gedung sudah melakukan tindakan anarkistis, dan bahkan melemparkan bom Molotov ke arah gedung Kantor Camat Wara Timur.

Pantauan luwuraya.com, massa yang jumlahnya diperkirakan ratusan orang ini terus beringas dan puncaknya Kantor Kecamatan Wara Timur dilempari bom Molotov.

Personil Satuan Brimob (Satbrimob) yang melakukan pengamanan langsung menghalau massa dengan menembakkan gas air mata. Setelah massa terpukul mundur Polisi langsung memadamkan api yang sudah mulai membakar bagian belakang Kantor Camat. Saat itu juga kotak surat suara langsung diangkut keluar dan dinaikkan ke mobil truk Polisi dan dibawa ke Kantor KPU Palopo. (b)

Sumber  :luwuraya.com

Jumat, 22 Maret 2013

Beberapa rasa sakit beserta bagaimana cara mengatasi sakit tersebut :

1. Tegang pada leher atau pundak.
Hal itu disebabkan karena mata harus menghadap langsung pada tulisan yang kita buat atau posisi
komputer yang sejajar dengan pandangan mata kita.
Cara mengatasinya yaitu: satukan kedua tangan dan letakkan di belakang kepela anda.kemudian luruskan punggung putar kepala kekana dan kekiri, tahan gerakan sebentar serta lakukan berulang-ulang.

2. Tegang pada pergelangan tangan.
Hal itu karena kita mengetik di keybord misalnya, maka tangan kita menjadi tegang atau pegal dan menyebabkan kejang urat pada pergelangan.
Cara mengatasinya yaitu: letakkan tangan lurus kedepan dengan menggerakkan jari-jari sambil diputar-putar dan lakukan hal tersebut secara berulang-ulang.

3. Tegang pada punggung.
Hal ini terjadi karena terlalu lama duduk pada posisi yang sama, terutama jika tubuh miring.usahakan duduk dengan menggunakan sandaran kursi yang tepat.
Cara mengatasinya yaitu: dengan posisi duduk buka kaki anda, condongkan badan kedepan dan arahkan pandanga ke bawah hal tersebut harus dilakukan dengan santai agar tubuh menjadi rileks sejenak, lakukan beberapa kali.

SEMOGA TIPS INI BERMANFAAT DAN MEMBUAT ANDA NYAMAN DALAM BEKERJA''
 Post By : Wulan Oktavian

Merokok merupakan perilaku yg haru dibayar mahal. Konsumsi tembakau memiliki berbagai efek yg merugikan untuk kesehatan. Konsumsi tembakau membunuh lebih banyak orang dibandingkan penyebab" lain seperti AIDS,asupan makanan yg kurang gizi (poor diet) dan gaya hidup kurang aktif (sedentarian), kecelakaan mobil, konsumsi alkohol, kekerasan rumah tangga, narkoba, bunuh diri, dan kebakaran yg di gabung menjd satu.

Konsumsi tembakau(merokok) menyebbkan kematian yg disebabkan olh keadaan dan penyakit a.l:
- kanker (terutama kanker paru, esofagus, rongga mulut, pankreas, ginjal, dan kandung kemih)
- penyakit kardiovaskular (penyakit jantung koroner, stroke, tekanan darah tinggi)
- penyakit paru (PPOK/penyakit paru obstruktif kronis dan pneum0nia)
- luka bakar
- bayi berat lahir rendah (BBLR)

"rokok merupakan satu-satunya produk legal yang jika digunakan, dapat menyebabkan KEMATIAN"
# ^_^
 Post by : Alti Dwi Seputri Manting

Minggu, 10 Maret 2013

Baru -  baru ini ANAK PALOPO COMMUNITY mengadakan bazar nonton bareng film "HABIBIE & AINUN" yang di adakan pada waktu Sabtu 09 Maret 2013 yang bertempat di cafe Djoker Palopo. Adapun dalam kegiatan bazar yang di adakan selain nonton bareng juga menampilkan salah satu seorang magizian Palopo yaitu "Ricky Dejavu" dimana ia menapilkan pertunjukan sulap dan hipnotis. Alhamdulillah proses berjalannya bazar yang diadakan berjalan lancar tanpa ada halangan dan rintangan yang menghadap.

Berikut kumpulan dokumentasi bazar yang telah kami abadikan : 







LIHAT SELENGKAPNYA DISINI

Selasa, 12 Februari 2013

Kota Palopo adalah sebuah kota di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia . Kota Palopo sebelumnya berstatus
kota administratif sejak
1986 dan merupakan bagian dari Kabupaten Luwu yang kemudian berubah menjadi kota pada tahun 2002 sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2002 tanggal 10
April 2002 . Pada awal berdirinya sebagai Kota Otonom, Palopo terdiri dari 4
Kecamatan dan 20
Kelurahan, Kemudian Pada tanggal 28 April 2005, berdasarkan Perda Kota Palopo Nomor 03 Tahun 2005, dilaksanakan pemekaran Wilayah Kecamatan dan Kelurahan menjadi 9 Kecamatan dan 48
Kelurahan. Kota ini memiliki luas wilayah 155,19 km² dan
berpenduduk sebanyak
120.748 jiwa . Kota Palopo ini dulunya bernama Ware yang
dikenal dalam Epik LaGaligo . Nama "Palopo" ini diperkirakan mulai digunakan sejak tahun 1604, bersamaan dengan pembangunan masjid
Jami' Tua . Kata "Palopo" ini diambil dari dua kata bahasa Bugis-Luwu,artinya yang pertama adalah penganan ketan dan air gula merah
dicampur,arti yang
kedua dari kata Palo'po adalah memasukkan pasak ke dalam tiang bangunan . Dua kata ini ada hubungannya dengan pembangunan dan penggunaan resmi masjid
Jami' Tua yang dibangun pada tahun 1604.

Kota Palopo yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2002 tanggal 10 April 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Mamasa dan Kota Palopo di Provinsi Sulawesi Selatan terletak pada
2.30 LS - 3.60 dan 120.20 BT - 120.80 BT dengan batas
administratif sebagai
berikut::
Utara :'Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu
Selatan : Teluk Bone
Barat : Kecamatan
Walenrang dan
kecamatan Bassesang Tempe'Kabupaten Luwu
 Post By : Nisaa Fanisaa Putri Sadega

Masuknya Islam dan Munculnya Baju La’bu
Meski ajaran agama Islam sudah mulai menyebar dan dipelajari oleh masyarakat di Sulawesi sejak abad ke-5, namun secara resmi baru diterima sebagai agama kerajaan pada abad ke-17.
Pergerakan DII/TII di Sulawesi juga berpengaruh besar pada perkembangan Baju Bodo saat itu. Ketatnya larangan kegiatan dan pesta adat oleh DII/TII, membuat Baju Bodo menjadi asing dikalangan masyarakat Sulawesi Selatan.
Larangan ini muncul mengingat penerapan syariat Islam yang diusung oleh pergerakan DII/TII. Tak pelak, pelarangan ini menjadi isu besar dikalangan para pelaku adat dan agamawan. Dalam ajaran agama Islam ditegaskan bahwa, pakaian yang dibenarkan adalah pakaian yang menutup aurat, tidak menampakkan lekuk tubuh dan rona kulit selain telapak tangan dan wajah. Kontroversi ini kemudian disikapi bijak oleh kerajaan Gowa, hingga muncullah modifikasi baju bodo yang dikenal dengan nama Baju La’bu (serupa dengan Baju Bodo, tetapi lebih tebal, gombrang, panjang hingga lutut).

Gadis remaja memakai Baju La’bu
Perlahan, Baju Bodo/Waju Tokko yang semula tipis berubah menjadi lebih tebal dan terkesan kaku. Jika pada awalnya memakai kain muslin, berikutnya baju ini dibuat dengan bahan benang sutera.
Bagi golongan agamawan, adanya Baju La’bu ini adalah solusi terbaik, tidak melanggar hukum Islam dan juga tidak menghilangkan nilai adat.

Warna dan Arti
Menurut adat Bugis, setiap warna Waju Tokko yang dipakai oleh perempuan Bugis menunjukkan usia ataupun martabat pemakainya.
Anak dibawah 10 tahun memakai Waju Tokko yang disebut Waju Pella-Pella (kupu-kupu), berwarna kuning gading (maridi) sebagai pengambaran terhadap dunia anak kecil yang penuh keriangan. Warna ini adalah analogi agar sang anak cepat matang dalam menghadapi tantangan hidup.
Umur 10-14 tahun memakai Waju Tokko berwarna jingga atau merah muda. Warna merah muda dalam bahasa Bugis disebut Bakko, adalah representasi dari kata Bakkaa, yang berarti setengah matang.
Umur 14-17 tahun, masih memakai Waju Tokko berwarna jingga atau merah muda, tapi dibuat berlapis/bersusun dua, hal ini dikarenakan sang gadis sudah mulai tumbuh payudaranya. Juga dipakai oleh mereka yang sudah menikah tapi belum memiliki anak.
Umur 17-25 tahun memakai Waju Tokko berwarna merah darah, berlapis/ bersusun. Dipakai oleh perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak, berasal dari filosofi, bahwa sang perempuan tadi dianggap sudah mengeluarkan darah dari rahimnya yang berwarna merah.
Umur 25-40 tahun memakai Waju Tokko berwarna hitam.
Waju Tokko berwarna putih digunakan oleh para inang/pengasuh raja atau para dukun atau bissu. Para bissu memiliki titisan darah berwarna putih, inilah yang mengantarkan mereka mampu menjadi penghubung dengan Botting Langi (khayangan), peretiwi (dunia nyata), dan ale kawa(dunia roh). Mereka dipercaya tidak memiliki alat kelamin, sehingga terlepas dari kepentingan syahwat.
Para putri raja, bangsawan dan keturunannya yang dalam bahasa Bugis disebut maddara takku (berdarah bangsawan) memakai Waju Tokko berwarna hijau. Dalam bahasa Bugis, warna hijau disebut kudara, yang berasal dari kata na-takku dara-na, yang secara harfiah berarti “mereka yang menjunjung tinggi harkat kebangsawanannya.”
Waju Tokko berwarna ungu dipakai oleh para janda. Dalam bahasa Bugis, warna ungu disebut kemummu yang juga dapat berarti lebamnya bagian tubuh yang terkena pukulan atau benturan benda keras. Dalam pranata sosial masyarakat Bugis jaman dahulu, menikah dengan seorang janda merupakan sebuah aib.

Cara Pakai dan Aksesoris
Cara memakai Baju Bodo/Waju Tokko sangat mudah, layaknya seperti memakai t-shirt. Baju Bodo/Waju Tokko dikenakan dengan menggunakan bawahan Lipa’ Sa’be (sarung sutera) yang bermotif kotak-kotak cerah. Lipa’ Sa’be dipakai seperti memakai sarung yang kadang diperkuat dengan tali atau ikat pinggang agar tidak melorot.

Beragam motif Lipa’ Sa’be
Pada bagian pinggang, Baju Bodo/Waju Tokko dibiarkan menjuntai menutupi ujung sarung bagian atas. Si pemakai biasanya memegang salah satu ujung baju bodo lalu disampirkan di lengan.

Sebagai aksesoris, ditambahkan kalung, gelang panjang, anting, dan bando atau tusuk konde di kepala. Ada pula yang menambahkan bunga sebagai penghias di rambut.

Selain untuk acara adat seperti upacara pernikahan, Baju Bodo/Waju Tokko saat ini juga dipakai untuk menyambut tamu agung dan acara lainnya seperti menari.
 Post By : Wulan Oktavian

Baju Bodo adalah pakaian tradisional perempuan Makassar. Dalam suku Bugis baju ini disebut Waju Tokko. Baju Bodo berbentuk segi empat, biasanya berlengan pendek, yaitu setengah atas bagian siku lengan. Dalam bahasa Makassar, kata “Bodo” berarti pendek.

Baju Bodo atau Waju Tokko, sudah dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan sejak pertengahan abad IX (pen), hal ini diperkuat dari sejarah kain Muslin, kain yang digunakan sebagai bahan dasar Baju Bodo itu sendiri. Kain Muslin adalah lembaran kain hasil tenunan dari pilinan kapas yang dijalin dengan benang katun. Memiliki rongga dan kerapatan benang yang renggang menjadikan kain Muslin sangat cocok untuk daerah tropis dan daerah beriklim kering.

Kain Muslin (Eropa) atau Maisolos (Yunani Kuno), Masalia (India Timur) dan Ruhm (Arab), tercatat pertama kali dibuat dan diperdagangkan di kota Dhaka, Bangladesh, hal ini merujuk pada catatan seorang pedagang Arab bernama Sulaiman pada abad IX. Sementara Marco Polo pada tahun 1298 Masehi, dalam bukunya The Travel of Marco Polo, menjelaskan bahwa kain Muslin itu dibuat di Mosul (Irak) dan dijual oleh pedagang yang disebut “Musolini”. Uniknya, masyarakat Sulawesi Selatan sudah lebih dulu mengenal dan mengenakan jenis kain ini dibanding masyarakat Eropa, yang baru mengenalnya pada abad XVII dan baru populer di Perancis pada abad XVIII.

Dalam Festival Busana Nusantara 2007 di Kuta – Bali, perancang busana kenamaan Oscar Lawalata menegaskan bahwa “Baju Bodo itu adalah salah satu baju tertua di dunia dan dunia internasional belum mengetahuinya.”

Pada awal munculnya, Baju Bodo/Waju Tokko, tidaklah lebih dari baju tipis dan longgar sebagaimana karakter kain Muslin. Tampilannya masih transparan sehingga masih menampakkan payudara, pusar dan lekuk tubuh pemakainya. Hal ini diperkuat oleh James Brooke dalam bukunya Narrative of Events, sebagaimana dikutip oleh Christian Pelras dalam Manusia Bugis, yang mengatakan:
“Perempuan [Bugis] mengenakan pakaian sederhana… Sehelai sarung [menutupi pinggang] hingga kaki dan baju tipis longgar dari kain Muslin (kasa), memperlihatkan payudara dan leluk-lekuk dada.”

Anak gadis memakai Baju Bodo/Waju Tokko di tahun 1930an

Gadis remaja memakai Baju Bodo/Waju Tokko di tahun 1900an
Pada awal abad ke-19, Don Lopez comte de Paris, seorang pembantu setia Gubernur Jenderal Deandels memperkenalkan penutup dada yang dalam bahasa Indonesia disebut “Kutang” pada perempuan Jawa, namun sayang kutang ini belum populer di tanah Bugis-Makassar. Sehingga tidak janggal jika pada tahun 1930-an, masih banyak ditemui perempuan Bugis-Makassar memakai Baju Bodo/Waju Tokko tanpa memakai penutup dada.
Post By : Wulan Oktavian

Jika sahabat pernah membaca kebudayaan-kebudayaan dan peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Sulawesi Selatan, tentu sahabat tahu tentang “Sure’ Lagaligo”. Sure’ Lagaligo atau kitab Lagaligo ini merupakan karya sastra terpanjang di Dunia yang mengalahkan Ramayana dan Mahabarata dengan panjang sekitar 300 ribu baris. Sayangnya naskah asli kitab ini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda karena alasan ilmiah mengingat suhu di Indonesia yagn tidak cocok dengan naskah-naskah kuno seperti ini.

Dari segi kebudayaan, ada makanan khas yang disebut “kapurung”. Makanan khas yang terbuat dari sagu ini, mirip dengan papeda di Papua. Hanya saja, kapurung dibuat bulat dengan menggunakan sepasang sumpit (istilah org Palopo/Luwu ‘didui’winking dan dicampur bersama kuah pedis, sayur mayur, jeruk nipis dan daging ikan, udang atau daging ayam. Makanan ini tidak perlu dikunyah, tapi langsung ditelan saja, itu sebabnya di Palopo/Luwu, orang lebih sering menyebutnya “minum kapurung”. Kalau dikunyah, justru akan terasa hambar, kesulitan, akan lengket sana sini di ruang mulut. Kapurung menjadi satu dari sekian banyak menu yang disajikan pada tiap acara-acara orang Palopo selain masih banyak pilihan menu makanan khas lainnya seperti pacco’, lawa’, parede, dan lainnya.

Luwu atau Palopo secara umum juga terkenal dengan buah-buahannya. Durian, langsat, rambutan dan Jeruk. Yang paling populer adalah duriannya. Karena saking banyaknya durian di daerah ini, jika musimnya tiba ada pemilik kebun yang hanya mengharuskan seseorang membayar 20 ribu rupiah saja untuk masuk ke dalam kebun duriannya dan makan sampai puas (tapi tidak boleh bawa pulang, harus dimakan di tempat).

Orang jualan buah langsat pun cukup unik, pada musimnya buah langsat umumnya dijual per pohon, jadi seseorang membeli buah langsat yang masih ada di pohonnya dan buah pohon itu akan menjadi milik si pembeli sampai habis.

Selain itu ada 2 jenis buah yang hanya pernah saya lihat di daerah ini; buah tarra’ (buahnya sekilas mirip nangka tapi isinya berwarna putih, tidak bergetah dan bijinya kecil-kecil) dan buah patikala yang biasa digunakan sebagai pengganti asam jawa, karena buahnya yang konon terasa kecut dan bentuknya yang unik, sekilas terlihat seperti kelapa sawit.
 Post By : Wulan Oktavian

Senin, 11 Februari 2013

Panggilan “daeng” yang banyak dikenal orang identik dengan kebudayaan Bugis-Makassar. Padahal, di Sulawesi Selatan, panggilan “Daeng” setidaknya digunakan pada dua kebudayaan dengan arti dan makna yang berbeda. Pada kebudayaan Bugis-Makassar, panggilan “Daeng” memiliki arti sebagaimana yang telah diadopsi orang banyak (baca tulisan bugishy), namun pada kebudayaan orang Luwu/Palopo, panggilan “Daeng” memiliki beberapa arti yang tidak bisa dikatakan sama.

Sistem demografi di Indonesia memang tidak mengakui eksistensi suku/kebudayaan Luwu, sehingga komunitas luas yang terdiri dari 21 kecamatan ini dikelompokkan sebagai suku Bugis atau Toraja, padahal mereka memiliki kebudayaan dan adat-istiadat tersendiri yang – meskipun ada kemiripan – berbeda dari suku Bugis, lebih-lebih Toraja.

Dalam masyarakat Luwu, panggilan “Daeng” setidaknya memiliki 3 arti:

1. “Daeng” (tanpa nama gelar) sebagai panggilan hormat (honorofik) untuk kakak kandung, baik laki-laki maupun perempuan.

2. “Daeng” (tanpa nama gelar) sebagai panggilan umum yang sangat sopan kepada orang yang lebih tua (laki-laki atau perempuan). Fungsi panggilan “Daeng” di sini berlaku bagi semua kalangan dan stratifikasi sosial, baik yang sudah menikah maupun yang belum.

3. “Daeng” (dengan nama gelar) sebagai panggilan atau julukan yang diberikan kepada seseorang yang telah menikah. Panggilan “Daeng” yang disertai nama gelar ini tidak ditentukan sendiri tetapi diberikan oleh orang lain atau masyarakat sekitar sesuai dengan sifat atau pembawaan seseorang. Contoh, seseorang dijuluki “Daeng Pacidda” karena selalu cepat dalam bertindak (pacidda = bertindak cepat). Seseorang dijuluki “Daeng Madduppa” karena setiap prediksi/perkataannya selalu benar dan terjadi (madduppa = terjadi). Seseorang dijuluki “Daeng Pabeta” karena selalu untung/menang dalam kompetisi (pabeta = untung/menang).

Yang masih bertahan sampai sekarang hanya poin (1) dan (2), sedangkan poin (3) perlahan-lahan sudah tidak dipakai lagi oleh generasi sekarang.
Post by :  Wulan Oktavian

Pada awal abad ke-17 para pedagang yang beragama Islam datang ke Sulawesi Selatan yang kemudian menyebarkan agama Islam. Agama ini berkembang pesat semenjak kedatangan penyebar dan pengembang Islam dari Koto Tangah Minangkabau, Sumatera Barat yaitu Datuk Sulaeman, Abdul Jawad Datuk Ri Tiro, dan Abdul Makmur Datuk Ri Bandang. Ketiganya pertama kali mendarat di Bua Luwu tahun 1603. Selanjutnya mubaliq asal Minangkabau itu berhasil mengislamkan Raja Luwu yang bergelar Payung Luru XV La Pattiware Daeng Parrebung, juga bergelar Sultan Muhammad Mudharuddin. Pengislaman ini terjadi pada tahun 1603 dan bertepatan 15 Ramadhan 1013 H. Setelah raja memeluk agama Islam, maka para pembesar dan rakyat Luwu mengikutinya. Kepesatan perkembangan agama Islam di Kerajaan Luwu mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Datu Luwu atau Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi, Sultan Abdullah Matinroe Ri Malangke yang menggantikan ayahandanya pada awal tahun 1604.

Pada awal pemerintahan Sultan Abdullah memindahkan Ibu kota Kerajaan Luwu dari Patimang ke Ware Palopo. Pertimbangan perpindahan ini berdasarkan pada teknis strategis pemerintahan dan pengembangan ajaran agama islam. Untuk mendukung perkembangan agama Islam maka Khatib Sulaeman yang kemudian bergelar Datuk Ri Patimang berhasil mendirikan sebuah masjid permanen pada tahun 1604 m di tengah kota Palopo tidak jauh dari istana. Masjid ini sampai kini masih berdiri disebut Masjid Tua Palopo.

Masjid Tua Palopo tumbuh pada zaman madya Indonesia yang berfungsi sebagai masjid Kerajaan atau masjid istana, maka dari itu letaknya berada di sebelah barat alun-alun dan masjid merupakan gambaran struktur perkotaan pada awal masa Islam di Indonesia.

Renovasi

Sejauh ini telah dilakukan beberapa kali renovasi untuk perbaikan masjid. Renovasi pertama pada 1700 M dengan perbaikan pada lantai. Kedua, pada 1951, mengganti lantai yang lama dengan lantai dari tegel yang didatangkan dari Singapura. Renovasi ketiga pada 1981 untuk memperbaiki seluruh bagian masjid yang rusak. Sedangkan pada renovasi keempat dan kelima dengan menambahkan luas bangunan hingga seperti yang sekarang ini. Lahan masjid ini seluas 1.680 m².

Bentuk arsitektur Masjid Tua Palopo secara keseluruhan menunjukkan nilai-nilai kebudayaan lokal yang berakulturasi dengan nilai-nilai dari luar, terutama Islam dan Jawa. Meski demikian, bagian inti dari kebudayaan setempat, tidak berubah. TAMAT
Post By : Wulan Oktavian

Unsur

Arsitektur Masjid Tua Palopo ini sangat unik. Ada empat unsur penting yang bersebati (melekat) dalam konstruksi masjid tua ini, yaitu unsur lokal Bugis, Jawa, Hindu dan Islam.

Pertama, unsur lokal Bugis. Unsur ini terlihat pada struktur bangunan masjid secara keseluruhan yang terdiri dari tiga susun yang mengikuti konsep rumah panggung. Konsep tiga susun ini juga konsisten diterapkan pada bagian lainnya, seperti atap dan hiasannya yang terdiri dari tiga susun; tiang penyangga juga terdiri dari tiga susun, yaitu pallanga (umpak), alliri possi (tiang pusat) dan soddu; dinding tiga susun yang ditandai oleh bentuk pelipit (gerigi); dan pewarnaan tiang bangunan yang bersusun tiga dari atas ke bawah, dimulai dari warna hijau, putih dan coklat.

Kedua, unsur Jawa. Unsur ini terlihat pada bagian atap, yang dipengaruhi oleh atap rumah joglo Jawa yang berbentuk piramida bertumpuk tiga atau sering disebut tajug. Dua tumpang atap pada bagian bawah disangga oleh empat tiang, dalam konstruksi Jawa sering disebut sokoguru. Sedangkan atap piramida paling atas disangga oleh kolom (pilar) tunggal dari kayu cinna gori (Cinaduri) yang berdiameter 90 centimeter. Pada puncak atap masjid, terdapat hiasan dari keramik berwarna biru yang diperkirakan berasal dari Cina.

Terdapat dua pendapat seputar bentuk atap Masjid Tua Palopo ini.[3] Yang pertama mengatakan bahwa atap tersebut mendapat pengaruh dari arsitektur Jawa. Sementara yang kedua menolak pendapat itu, dengan berargumen bahwa bentuk tersebut merupakan pengembangan dari konsep lokal masyarakat Sulawesi Selatan sendiri. Namun demikian, mengingat hubungan antara kedua masyarakat telah terjalin begitu lama, wajar jika terjadi akulturasi budaya.

Susunan atap pertama dan kedua disangga empat tiang yang terbuat dari kayu cengaduri, dengan tinggi 8,5 meter dan berdiameter 90 cm. Keempat tiang tersebut dalam konsep Jawa disebut sokoguru. Sementara itu, atap paling atas ditopang dengan satu tiang terbuat dari kayu yang sama. Dalam kearifan lokal Sulawesi Selatan, satu tiang penyangga atap paling atas yang didukung oleh empat tiang lainnya merefleksikan yang sentral (wara) dikelilingi oleh unsur-unsur lain di luar yang sentral (palili).

Ketiga, unsur Hindu. Unsur ini terlihat pada denah masjid yang berbentuk segi empat yang dipengaruhi oleh konstruksi candi. Pada dinding bagian bawah, terdapat hiasan bunga lotus, mirip dengan hiasan di Candi Borobudur. Pada dinding bagian atas juga terdapat motif alur yang mirip dengan hiasan candi di Jawa.

Keempat, unsur Islam. Unsur ini terlihat pada jendela masjid, yaitu terdapat lima terali besi yang berbentuk tegak, yang melambangkan jumlah Salat wajib dalam sehari semalam.
Bangunan

Ukuran bangunan utama Masjid Tua Palopo yaitu 11,9 m x 11,9 m, tinggi 3,64 m,[3] dengan tebal dinding 0,94 m yang terbuat dari batu cadas yang direkatkan dengan putih telur. Denahnya berbentuk segi empat yang agaknya dipengaruhi bentuk denah candi-candi di Jawa.

Bentuk segi empat pada Masjid Tua Palopo mengandung makna yang sama dengan bentuk segi empat pada bangunan pendopo atau candi candi, yakni mengandung makna filosofis dan fungsional. Yang pertama berarti bahwa bentuk geometri tersebut sebetulnya. Sedangkan, makna yang kedua melambangkan persamaan dan kesetaraan siapa saja yang berada di dalamnya.
Posy by : Wulan Oktavian

Masjid Tua Palopo merupakan masjid peninggalan Kerajaan Luwu yang berlokasi di kota Palopo, Sulawesi Selatan. Masjid ini didirikan oleh Raja Luwu yang bernama Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 M. Masjid yang memiliki luas 15 m² ini diberi nama Tua, karena usianya yang sudah tua. Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu yang memiliki dua arti, yaitu: pertama, penganan yang terbuat dari campuran nasi ketan dan air gula; kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna ini memiliki relasi dengan proses pembangunan Masjid Tua Palopo ini.

Aristektur
Bangunan masjid terletak di tepi jalan, tepatnya di sudut perempatan jalan. Tidak jauh dari masjid ini berdiri Istana Raja Luwu. Denah masjid tua Palopo berbentuk bujur sangkar. Ukurannya yaitu 15 × 15 m, sedang ketebalan dinding mencapai 90,2 cm dan tinggi dinding 3 m dari permukaan tanah. Ukuran ketinggian seluruhnya dari permukaan tanah sampai ke puncak atap mencapai 10,80 m.

Masjid menghadap ke timur, pintu masuk diapit oleh enam buah jendela dengan ukuran lebar 85 cm dan tinggi 117 cm. Setiap pintu pada bagian atasnya agak melengkung (setengah lingkaran) dan pada puncaknya di sebelah kanan dan kiri terdapat tonjolan dengan motif daun, sehingga bentuknya seperti pintu bersayap serta dihiasi dengan huruf Arab.

Dinding sisi utara dan selatan berisi masing-masing dua buah jendela, sedangkan di sisi barat terdapat ceruk yang berfungsi sebagai mihrab. Mihrab bagian atas berbentuk melengkung (setengah lingkaran) dan bagian atas meruncing sehingga membentuk seperti kubah. Hiasan sekeliling mihrab yaitu daun-daun kecil. Sebagai pengapit ceruk adalah ventilasi yang berbentuk belah ketupat dengan komposisi enam buah berjajar dua-dua mengapit ceruk.

Masjid Palopo beratap tumpang tiga seperti masjid-masjid tua di Indonesia lainnya. Atap tumpang teratas terdapat sebuah mustaka yang terbuat dari keramik Cina yang diperkirakan jenis Ming berwarna biru. Mustaka tersebut secara teknis sebagai pengunci puncak atap untuk menjaga masuknya air, tetapi juga secara filosofis berarti menunjukkan ke Esaan Tuhan. Atap terbuat dari sirap. Tumpang tengah dan bawah masing-masing ditopang oleh empat buah pilar (tiang kayu), sedangkan tumpang paling atas ditopang oleh sebuah tiang utama (soko guru) yang langsung menopang atap. Soko guru inilah yang disakralkan oleh orang-orang tertentu, terbuat dari kayu lokal yaitu cinna gori yang dibentuk secara utuh, dan tampak ditatah dengan ukuran garis tengah 90 cm.

Lantai masjid dari tegel ubin teraso, pengganti ubin asli yang terbuat dari batu tumbuk. Di dalam ruangan masjid terdapat mimbar dari kayu dengan atap kala parang atau kulit kerang. Gapura mimbar berbentuk paduraksa, memiliki hiasan kala makara yang distilir dengan daun-daunan yang keluar dari kendi. Sebagian masyarakat Luwu beranggapan bahwa tepat dibawah mimbar terdapat makam Puang Ambe Monte yang berasal dari Sangalla Tana Toraja. la adalah arsitek yang dipercayakan oleh Sultan Abdullah untuk membuat dan membangun Masjid Tua Palopo pada tahun 1604.
Post By : Wulan Oktavian

Minggu, 10 Februari 2013

Beragam jenis teh punya manfaat masing". Tanaman yg serng tmbuh d'daerah tropis ini sejak dlu sdah di knal nenek moyang kita. Berikt manfaat teh sesuai jnisx:

1. TEH HIJAU
Dibuat dr daun theh yg tdk difermentasi sehngga mengandung polyphenols konsentrat tinggi. Teh hijau serng d'manfaatkan untk mengurangi resiko kanker & penyakt jntung,menurunkan kolesterol,menurunkan berat badan (terutama Lemak Perut). Teh hijau jga membri manfaat dlm menurunkn resiko diabetes & alzheimer,s.

2. TEH HITAM
Teh ini jika diminum menunjukkan adanya penurunan tingkat kortisol dlm darah mereka setelah stres berat. Kuncix,mreka mengonsumsi teh hitam empat X Per hari slama enam minggu. Teh hitam jg mampu mengurangi resiko kanker.
 
3. TEH PUTIH
Terbukti mampu memperlambat pertmbuhan bkteri yg menyebabkan infeksi staphylococcus,infeksi streptococcus,pneumonia,dan karies gigi,serta meningkatkn fungsi sistem kekeblan tubuh.
 
4. TEH OOLONG
TEH ini trbukti mampu mendorong metabolisme tubuh,membakar lemak,membntu menurunkan berat badan,dan menjaga kesehatan kulit.
 
5. TEH MERAH BUNGA ROSELLA
teh ini mampu mengatasi batuk,asam urat,kolesterol,hipertensi,radikal bebas,dan penyegar(tonik). Selain itu brdasarkn penelitian ilmiah yg dilakukn ilmuwan,rosella merah juga brkhasiat untk menurunkn tekanan darah (hipotensi),anti kejang,saluran pernapasan,anticacing (antelmintik),dan anti bakteri.
 Post By : Alti Dwi Seputri Manting

Sabtu, 09 Februari 2013

Latuppa’
Merupakan sebuah objek permandian dan lokasi pariwisata terkenal yang terletak di Palopo. Sebuah daerah yang berwilayah di ujung utara Sulawesi Selatan. Terletak berada sekitar 360 km dari kota Makassar, Memiliki letak geografis yang terdiri dari daratan rendah, pantai dan pegunungan. Latuppa yang berada sekitar 5 km dari pusat kota Palopo merupakan salah satu tujuan wisata dari warga baik itu dari kota Palopo sendiri maupun dari daerah sekitarnya.

Latuppa merupakan sebuah salah satu sungai yang membelah kota Palopo selain sungai boting. Selain dijadikan sebagai objek pariwisata, sungai Latuppa merupakan sungai yang juga memiliki peranan penting dalam menyediakan kebutuhan akan air bersih bagi warga kota Palopo. Sungai tersebut memasok seluruh kebutuhan air bersih untuk kota Palopo.
Kawasan pariwisata agrowisata. Berhawa sejuk bernuansa pegunungan. Berada di ketinggian sekitar 200 meter dari permukaan laut. dikenal sebagai penghasil buah-buahan, terutama durian dan rambutan. Kawasan ini juga menjadi dan sumber mata air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Palopo

Selain menawarkan permandian alamnya, Latuppa juga memiliki keindahan alam yang begitu indah. Memiliki air terjun hingga tiga tingkat dan nuansa pegunungan yang sejuk. Latuppa juga menawarkan alternatif lain yang membuat kita ingin selalu kembali ke tempat tersebut. Wisata permandian kolam renang yang bernama AGRO WISATA menambah pesona dari latuppa, belum lagi jika pada musim buah, sepanjang jalan kita akan menyaksikan pemandangan berjejernya pohon durian, rambutan dan langsat yang buahnya begitu lebat

BAMBALU
Masuk di wilayah Battang Barat dan berjarak 18 kilometer dari kota palopo. Daerah ini dikenal dengan air terjun dan puluhan air sungai. Satu dari sekian banyak objek wisata pegunungan yang mendapat kunjungan paling banyak setiap minggunya. Di sepanjang perjalanan, ngarai dan lembah terlihat jelas di kelilingi pegunungan di sisi kiri-kanannya

PANTAI LABOMBO
Berada di pusat kota. Sebuah suguhan panorama wisata bahari yang menawan. Sepanjang kawasan pantai dipenuhi barisan pohon kelapa dan beberapa gazebo terbangun indah. Selepas mata memandang, tampak birunya laut dan tempat pelelangan ikan (TPI) dan Pelabuhan Tanjung Ringgit terlihat jelas. Sarana rekereasi wisata bahari ini memiliki luas sekitar 2 Ha dan menjadi kawasan wisata andalan Palopo

Museum Batara Guru
Diresmikan pada tanggal 26 juli 1971 oleh Bupati Luwu saat itu, Andi Achmad. Beliau adalah salah seorang ahli waris dari Raja Luwu. Tujuan didirikannya museum ini adalah untuk melestarikan warisan budaya Kerajaan Luwu agar dapat diwariskan pada generasi berikutnya. Gedung museum Batara Guru yang didirikan pada tahun 1920 ini merupakan bekas Istana raja Luwu.
Koleksi
Museum Batara Guru mempunyai koleksi sebanyak 831 buah yang terdiri dari koleksi prasejarah, heraldika, keramik, etnografi, naskah, numismatik, dan foto

Rumah adat Langkanae
Terdapat beberapa bangunan gedung bersejarah yang memiliki histori bagi masyarakat Palopo dan kawasan Luwu. Salah satunya adalah Istana Datu Luwu, yang saat ini difungsikan sebagai Museum Kerajaan Luwu dan diberi nama Museum La Galigo.Lokasi rumah adat ini kerap digunakan sebagai tempat kegiatan sanggar budaya dan kegiatan adat lainnya.Sementara kawasan wisata LokkoE yang terletak di Luminda, Sabbamparu, merupakan tempat pemakaman raja-raja (datu) Luwu. Tempat pemakaman ini menyerupai piramida yang ada di Mesir. Berbentuk kerucut dan di dalamnya disemayamkan para mendiang raja-raja Luwu yang dianggap dewan adat Luwu berhak dimakamkan di tempat pemakaman ini


Bukit Sampoddo

Terletak sekitar tujuh kilometer sebelum memasuki Kota Palopo, merupakan lokasi wisata di mana Anda dapat menikmati eksotis kota Palopo yang terbingkai dalam tiga dimensi, yakni nuansa pegunungan, daratan dan daerah pesisir dengan sekali pandang.Sambil menikmati keindahan kota, di tempat ini Anda juga bisa menikmati kelezatan jagung bakar dan jagung rebus yang diperjualbelikan oleh pedagang setempat.
 Post by :  Wulan Oktavian

Selasa, 05 Februari 2013


 
Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.

• Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan.

• Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan perempuan-perempuan Bugis.
• Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai (waria), namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
• Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa’, tari Pa’galung, dan tari Pabbatte (biasanya di gelar pada saat Pesta Panen).
Post By : Wulan Oktavian

SEKO adalah salah satu kecamatan di KABUPATEN  LUWU UTARA , PROV.SULAWESI SELATAN,dengan jumlah penduduk 12.000- 16000 jiwa
SEKO adalah salah satu kecamatan yang sangat tertinggal di sulawesi selatan dikarenakan akses menuju ke sana sangat sulit ,seko dapat di jangkau dgn menggunakan pasawat dengan biaya Rp.200 .000 tapi saat ini pesawat tidak ada lagi yang beroperasi.seko juga dapat di jangkau dengan menggunakan ojek dengan biaya Rp 1.200.000 pulang pergi.

SEKO berjarak 97 km dari MASAMBA ibu kota kabupaten LUWU UTARA,tapi aneh jarak yang tidak terlalu panjang ini sampai sekarang belum tersentuh infrastruktur pembangunana jalan. ruas jalan saat ini adalah peninggalan belanda,tapi pada saat pemberontakan KAHAR MUZAKKAR jalan ini di hancurkan agar penduduk seko tidak dapat kemana-mana.Kini, setengah abad berlalu, jalan menuju Seko masih seperti ketika kakek buyut saya menjalaninya. Saya sempat menuju Jalan yang oleh Pemkab LUTRA dijanjikan akan di bangun sampe ke Seko dari Kecamatan Rongkong. Ketika saya melihat jalan itu, ternyata pengerjaannya hanya sekedar saja dan tidak serius, Jalan yang tadinya masih mudah di tempuh oleh Pengendara Roda 2 ternyata amat sulit untuk di lewati. Para pengendara Motor tersebut harus menghabiskan waktu selama 4 hari 3 malam untuk menempuh jarak yang hanya 45 KM dari Kecamatan Rongkong/Limbong pada saat musim hujan, jarak tersebut hanya menghabiskan waktu 1 hari sebelum pengerjaan.

1297186930692612861
ojek yang akan menuju seko


1297187464742522714
ojek yang melalui jalan yang berlumpur


12971872491331092456
ojek saat menyeberangi sungai


SEKO, Desa terpencil diatas ketinggian 1560 meter dari permukaan Laut.
Pada zaman ORLA menjadi satu distrik, disebut DISTRIK SEKO. Pada Zaman ORBA dilebur menjadi satu kecamatan dengan DISTRIK RONGKONG menjadi Kec. RONGKONG-SEKO. Pada Zaman REVOLUSI Modern sekarang ini, kembali menjadi satu wilayah pemerintah dengan nama KECAMATAN SEKO.

Masyarakat SEKO, Argraris dengan hasil utama, KOPI ARABICA, KOPI REBUSTA, PADI, JAGUNG, AKHIR AKHIR INI (Pertengan thn.90-an) MENGHASILKAN COKLAT BERKUALITAS EKSPORT. Disamping Ternak KERBAU dan Hasil HUTAN berupa DAMAR dan ROTAN

1297187942397860741 
SEKO JANTUNG SULAWESI


12971880911995499267
SEKO tempat yang sangat indah dan kaya,tapi sayang disia-siakan oleh pemerintah……

Post By : Fariz Palopo

Kota Palopo, dahulu disebut Kota Administratip (Kotip ) Palopo, merupakan Ibu Kota Kabupaten Luwu yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah ( PP ) Nomor Tahun 42 Tahun 1986. Seiring dengan perkembangan zaman, tatkala gaung reformasi bergulir dan melahirkan UU No. 22 Tahun 1999 dan PP 129 Tahun 2000, telah membuka peluang bagi Kota Administratif di Seluruh Indonesia yang telah memenuhi sejumlah persyaratan untuk dapat ditingkatkan statusnya menjadi sebuah daerah otonom.

Ide peningkatan status Kotip Palopo menjadi daerah otonom , bergulir melalui aspirasi masyarakat yang menginginkan peningkatan status kala itu, yang ditandai dengan lahirnya beberapa dukungan peningkatan status Kotip Palopo menjadi Daerah Otonom Kota Palopo dari beberapa unsur kelembagaan penguat seperti :

1). Surat Bupati Luwu No. 135/09/TAPEM Tanggal 9 Januari 2001, Tentang Usul Peningkatan Status Kotip Palopo menjadi Kota Palopo.2).Keputusan DPRD Kabupaten Luwu No. 55 Tahun 2000 Tanggal 7 September 2000, tentang Persetujuan Pemekaran/Peningkatan Status Kotip Palopo menjadi Kota Otonomi, 3). Surat Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan No. 135/922/OTODA tanggal 30 Maret 2001 Tentang Usul Pembentukan Kotip Palopo menjadi Kota Palopo;4). Keputusan DPRD Propinsi Sulawesi Selatan No. 41/III/2001 tanggal 29 Maret 2001 Tentang Persetujuan Pembentukan Kotip Palopo menjadi Kota Palopo; Hasil Seminar Kota Administratip Palopo Menjadi Kota Palopo; Surat dan dukungan Organisasi Masyarakat, Oraganisasi Politik, Organisasi Pemuda, Organisasi Wanita dan Organisasi Profesi; Pula di barengi oleh Aksi Bersama LSM Kabupaten Luwu memperjuangkan Kotip Palopo menjadi Kota Palopo, kemudian dilanjutkan oleh Forum Peduli Kota.

Akhirnya, setelah Pemerintah Pusat melalui Depdagri meninjau kelengkapan administrasi serta melihat sisi potensi, kondisi wilayah dan letak geografis Kotip Palopo yang berada pada Jalur Trans Sulawesi dan sebagai pusat pelayanan jasa perdagangan terhadap beberapa kabupaten yang meliputi Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Tana Toraja dan Kabupaten Wajo serta didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, Kotip Palopo kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Daerah Otonom Kota Palopo

Tanggal 2 Juli 2002, merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan pembangunan Kota Palopo, dengan di tanda tanganinya prasasti pengakuan atas daerah otonom Kota Palopo oleh Bapak Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia , berdasarkan Undang-Undang No. 11 Tahun 2002 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Palopo dan Kabupaten Mamasa Provinsii Sulawesi Selatan , yang akhirnya menjadi sebuah Daerah Otonom, dengan bentuk dan model pemerintahan serta letak wilayah geografis tersendiri, berpisah dari induknya yakni Kabupaten Luwu.

Diawal terbentuknya sebagai daerah otonom, Kota Palopo hanya memiliki 4 Wilayah Kecamatan yang meliputi 19 Kelurahan dan 9 Desa. Namun seiring dengan perkembangan dinamika Kota Palopo dalam segala bidang sehingga untuk mendekatkan pelayanan pelayanan pemerintahan kepada masyarakat , maka pada tahun 2006 wilayah kecamatan di Kota Palopo kemudian dimekarkan menjadi 9 Kecamatan dan 48 Kelurahan.

Kota Palopo dinakhodai pertama kali oleh Bapak Drs. H.P.A. Tenriadjeng, Msi, yang di beri amanah sebagai penjabat Walikota (Caretaker) kala itu, mengawali pembangunan Kota Palopo selama kurun waktu satu tahun , hingga kemudian dipilih sebagai Walikota defenitif oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Palopo untuk memimpin Kota Palopo Periode 2003-2008, yang sekaligus mencatatkan dirinya selaku Walikota pertama di Kota Palopo.
 Post By : Achmad Amiruddin

T I M E

Popular Posts

Labels

Followers

Pengunjung

obrolan

Anak Palopo. Diberdayakan oleh Blogger.
Anak Palopo Community © 2013 Created by Emon Tok